Oleh : Annisa Nurjannah
Entah apa yang terjadi pada keluargaku .
Entah apa yang terjadi pada keluargaku .
Oh malam , jangan datanglah , aku takut sendirian.
Kakak , aku takut.
Malam pertama saat semuanya pergi . mata terasa dingin , karena basahnya . ya allah , tak mau lagi ku rasakan malam itu . jangan lagi . hari ini waktuya aku menjenguk kakak . kadang hari begitu cepat , tapi terlihat lamban juga . lamban . ya , ini sudah ratus ribuan kalinya aku membawa mie pangsit ke dalam sel . tetapi tak kunjung usai , tak lelah juga . aku tetap menyayangimu , karena kau satu-satunya yang ku miliki kak .
“ayo mang , jalan “ membuka pintu mobil belakang dengan tangan kiri dan yang kanan tak pernah berganti tugas masih tetap memegang rantang .
“oke siap! Berangkat den… “ hisapan terakhir sebatang rokok yang makin memasang sebelum dibuang keparit depan rumah .
Di dalam mobil
“udah sarapan mang?” melihat dan mengeratkanrantang ke tubuh .
“udin den . eh maksud saya udah den”
“sarapan yang dikasih bi Mijah kan mang?”
“iya den”
“kenyang mang?”
“Alhamdulillah kenyang den . kenapa gitu den kayaknya tumben-tumbenan aden perhatian ama mamangnya , hehehe”
“hehehe… yah abis harus perhatian sama siapa lagi mang? Orang sisanya tinggal mamang ama bi Mijah”
“iya juga sih den heheheh”
Pagi Jakarta adalah kota yang masih berselimut oleh asap-asap tak bermoral . kebisingan terompet-terompet para pengguna jalan membuyarkan burung-burung yang bertengger di kawat listrik lampu jalan yang masih menyala . mungkin memang lupa dimatikan . seharusnya dimatikan semua ckck.. biar jadi kota mati sekalian ! haha.. kenapa tiba-tiba jadi ikutan panas begini padahal ac mobil masih menyala .
“mang?”
“ha..?”
“ini nih mang fungsinya kenapa saya nanya mang udah kenyang apa belum , kan kalo macetnya lama begini perut yang ngomel mang hahaha..”
“hahaha betul tuh den”
Mamangku.. mamangku.. mamang yang ini berbeda sekali dengan mamang yang dulu . mungkin karena berbeda generasi antara keduanya . mamang yang dulu , dalam rekaman otakku , yang terlihat hanya raut wajah kaku dan penakut , selalu manggut dalam setiap perintah almarhum ayah . kalau mamamh yang ini , masih berjiwa muda sepertinya hahaha. Tetatpi tak bias dibilang muda juga sih hehe… karena aku memang pernah sekali diboncenginya , tepat sehari sesudah kakak dipenjarakn , ia masih memakai seragam SMA . kemungkinan saat itu umurnya 16-18 tahun . sedangkan aku 11 tahun , masih kelas 5 SD . cerewet cekatan dan pintar . aku sering dan suka sekali saat adu argument dengannya apalagi soal politik , benar-benar manis dan menggelitik . ia benar-benar menjadi teman terbaik saat pejalanan menuju kantor . usia ku kini hampir memasuki kepala tiga , dan pastinya mamangku ini sudah melwati kepala tiga . andai saja ia lebih muda dariku , pasti akan kusematkan ia untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi bukan untuk menjadi sesuatu yang pasrah dengan lulusan SMA saja . oh mungkin belum sampai lulus juga SMA nya . ia sudah mengganti beban ayahnya , satpam rumah sekaligus spir pribadi ayah baruku , ayah tiriku .
Satu hal yang aku irikan dari dirinya . ia selalu terlihat bahagia , apa karena ia sudah berkeluarga? Terlebih lagi mempunyai dua orang putrid yang lucu-lucu sedangkan aku? Tidur di rumah yang sebesar itu . tak ada seorang pun yang memanggil sebutan ayah atau panggilan sayang untuk seorang suami . hmm..
Apa karena aku benar-benar seorang majikan yang baik? Memberikan lebih dari cukup dari seorang underdog sepertinya? Ku berikan itu semua dengan niatan untuk sedekah tidak lebih tidak kurang . saat itu mungkin ia benar-benar tergiur dengan bulanan perjanjian itu , sehingga ia langsung stuck menggantungkan cita0citanya untuk menjadi abdi dalem keluargaku.
Sudah sampai mana kita? Ahh sial. Cuma beberapa meter saja berpindah dari tempat tadi?!! Masya allah.. jika disuruh balapan dengan semut pun , pasti mobilku sudah kalah telak nih . untung hari ini tak ada janji dengan client . hidupku termasuk enak kalau soal materi . tak pernah kekurangan suatu apapun . aku harus mensyukurinya . aku tidak pernah minta untuk dilahirkan dalam kondisi kaya dan berkecukupan . tapi allahmemberikan cuma-Cuma untukku , Dia hanya meminta aku menyembah-Nya dan mengingat-Nya selalu dalam pacuan nafasku ini .salahku salas keluargaku . tak pernah mengenalkan ajaran agama kepadaku . mungkin saat ku lahir , aku tak pernah di azani . dalam konteks pura-pura mengingat , saat itu yang ku dengar hanya ucapan selamat dari saudara-saudara yang tak jelas ujugnya .
“mang , entar kita pake tol aja ya , mang ada duit pas?” sedikit mengadahkan kepala ke depan .
“ada dong den , selalu siap” membuka laci dan memainkan recehan
“hahaha… apa banget mang ini”
Sekali lagi mamangku memang benar-benar berjasa ia telah mengajriku agama . mulai dari melafalkan syahadat . awalnya aku merasa terejek . dikiranya aku bodoh apa? Syahadat kan untuk orang yang ingin masuk islam . tapi memang benar aku harus diislamkan lagi . aku merasa terjebak . aku hanya sholat seminggu sekali . hanya sholat jum’at! Itu juga penuh kepura-puraan , hanya ikut0ikutan temanku di sekolah . hamper soal sunat pun keluargaku tak ada yang mengingatnya . dalam usia segitu aku harus sudah dituntutuntuk berfikir kritis , selektif untuk menentukan orang-orang yang seperti apa , bertujuan untuk apa mereka memelukku dan hinggap di kehidupanku . pernah aku berfikiran tidak-tidak tentang mamang . aku merasa janggal kenapa kehadiran mamang seperti direncanakan .
Aku merasa terusik, aku merasa aku harus tahu. Terlebih saat itu aku sudah memegang warisan ayah kandungku, yang membuatku harus menyelidiki kematian ayah. Kematian yang mencengangkan, dengan pose yang aneh, tepat satu tembakan di jantungnya, di kursi kebanggaannya di ruang kerja di rumah busuk itu di rumah yang masih kutinggali sekarang ini. Memang saban hari sebelum kematian ayah kandungku dia lebih sering main kerumah walaupun Alma sampai di depan pos satpam mengantarkan sepeda untuk ayahnya sehabis dia pakai untuk sekolah, kadang aku tak habis piker dengan ayah tiriku – pengacara keluargaku dulunya – ia malah mempekerjakan yang masih sekolah begitu sedangkan mamang yang sudah tua dibilang pension katanya suruh banyak-banyak istirahat. Waktu yang telah membawaku beranjak pada umur 17 tahun saat itu, aku merasa bahwa tersangka pembunuh ayahku ialah mamang yang ada bersamaku di dalam mobil ini sekarang. Dengan kemampuan yang kupunya saat itu makin hari makin aku menyelidikinyamakin tambah juga kerutan di dahiku, aku tertegun heran, tidak ada sedikit pun bukti yang bias membuatnya tumbang. Ini salahku ! aku baru mencari bukti setelah 6 tahun kepergiannya. Bodohnya aku pasti sudah dilenyapkannya bukti-bukti itu.
Tak perlu lama-lama mencurigai dirinya, karena masih ada 2 orang yang harus ku curigai dirumah itu, ayah tiriku dan saudara tiriku. Iya, dia membawa satu anak dari keluarga pertamanya, lelaki yang seumuran denganku. Awalnya aku bahagia, penuh penuh dengan senyuman penuh harap pada keluarga baruku itu. Ya…. Walaupun hanya bertambah dua orang, hmm…. Setidaknya sudah ada teriakan-teriakan kembali sesudah trauma itu. Hah.. sial betapa jahatnya aku, harus mencurigai dua orang yang telah menyayangiku dengan tulus.
Kenapa? Ada yang aneh? Oh.. bi mijah.. ah gila mana berani aku mencurigainya . dia sudah seperti ibu kandungku . apa mungkin ia benar-benar ibu kandungku? Jelas ia yang lebih tau apa yang aku suka dan tidak aku suka . merawatku secara terang-terangan . pokoknya segalanya lebih baik dia disbanding ibuku yang tercatat di akta kelahiran . pokoknya tidak-tidak-tidak . tidak mungkin dia pelakunya . balik lagi ke ayah tiriku . ya , aku berhasil membuktikannya , bahwa ia telah bersalah ! memang masih baru ia kukirim ke sel , baru sepekan yang lalu . hah.. ternyata bukan dia yang langsung membunuh ayahku . dengan alibi pembunuh bayaran bercampur motif ingin menguasai hartaku . kalu motifnya aku sudah bias membacanya sejak dulu , karena dalam surat wasiat ayahku tertulis . seluruh warisan jatuh ke tangan ibuku anak-anaknya apabila umurku dan kakakku sudah 17 tahun . nah saat umurku sudah 17 tahun , ayah tiriku memang sempat mendeklarasikan wasiat itu dihadapanku . tapi usut punya usut , ia tak mau beranjak pergi darirumahku dan ia masih berani memegang asset perkebunan kopi di luar Jakarta , katanya lagi.. tak mungkin aku memegang kekayaan itu dalam usia semuda itu . katanya aku harus konsen ke urusan pelajaran sekolah dulu . kampret ! bulshit semua kata-katanya . pantes aja mamang yang tua langsung digantikan dengan mamang yang muda tanpa alasan logis . hamba sangat bersyukur sekali kepada-Mu ya rabb , masih memangjangkan umur saksi kunci kematian ayah , umur mamang yang sudah tua maksut ku.
“den?” menyolek lututku
“hah..” celingak-celinguk
“udah nyampe den”
“hah udah? Cepet banget” garuk-garuk kepala .
Mungkin terlalu lama aku mendongeng jadi gak terasa hahaha. Ah sial hair style ku berantakan .
Mamang membuka pintu mobil .
“mang.. mang..”
“iya kenapa den?”
“udah ganteng belum nih mang?” sesekali melihat ke spion dalam mobil ,
“aden mah ngeledek”
“lah saya nanya mang?”
“aden mah udah ganteng den dari lahir”
“kayak tau aja mamang saya lahirnya begimana , wee”
“hahahahaha”
“udah ah mang misi ! ngelawak mulu nih bisanya”
“iya den iya silahkan”
“saudari Ari , ada yang berkunjung” petugas kepolisian membuka gembok pintu tahanan .
to be continued.. (:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar