“Republik islam iran
memakai sistem ekonomi Islam,
sedangkan Indonesia dual sistem,
yaitu ekonomi konvensional dan
ekonomi syariah”
Secara filosofi dan landasan, antara
Iran yang berbasis ajaran syi’ah dengan ekonomi syariah di Indonesia yang
menganut paham sunni sebenarnya tidak jauh berbeda. Akan tetapi pada aplikasi
akad dan kontrakekonomi syari’ah di Indonesia dengan yang di Iran. Seperti
kontrak di perbankan, asuransi, dan sukuk.
Rasulullah
bersabda, “setiap umat pasti mendapat cobaan (fitnah) sedangkan cobaan umatku
adalah harta”. HR Turmudzi
Ekonomi Iran
adalah camuran Ekonomi Perencanaan Sentral dengan sumbe minyak
perusahaan-perusahaan utamanya dimiliki pemerintahan, dan juga terdapat
beberapa perusahaan swasta. Pertumbuhan ekonomi Iran stabil semenjak dua abad
yang lalu.
Pada abad
ke-21, persenan sektor jasa dalam pengeluaran kasarnya, PNK, adalah yang
tertinggi , diikuti dengan pertambangan dan pertanian 45% belanja negara adalah
hasil pertambangan minyak dan gas alam, dan 31% dari cukai. Pada 2004, PNK Iran
diperkirakan sebanyak $2.440 per
kapita.
Rekan dagang Iran adalah Cina,
Rusia, Jerman, Perancis, Italia , Jepang , dan Korea Selatan. Semetara itu
semenjak 90-an, Iran mulai meningkatkan kerjasama ekonomidengan beberapa negara
berkembang termasuk Suriah, India, dan Afrika Selatan
Kerja Sama Migas Belum Jelas
Iran menawarkan peluang pada perusahaan Rusia untuk bepartisipasi dalam berbagai proyek ekstraksi minyak dan gas. Gazprom
dan Lukoil telah menerima tawaran tersebut, namun kedua perusahaan
masih mempertimbangkan tawaran itu. Teheran mengaku siap bertemu dengan
Gazprom dan Lukoil, serta siap mengubah legislasi yang mengatur
perusahaan asing tidak boleh menjadi pemangku kepentingan dalam proyek
ekstraksi migas di Iran. Iran pun tengah mencari investor dari Rusia
untuk realisasi proyek pencairan gas.
Salah satu isu utama yang didiskusikan kedua negara
adalah mekanisme kesepakatan bersama. Alexander Novak menjelaskan mereka
sedang mengkaji mekanisme pembayaran dengan rubel dan mata uang Iran.
“Kami setuju transaksi perdagangan antara Rusia dan Iran akan dilakukan
menggunakan mata uang lokal,” kata Menteri Minyak Iran Bijan Zanganeh.
Sementara itu, belum ada kesepakatan konkret mengenai suplai
minyak Iran ke Rusia. Pada Agustus lalu, pemerintah Rusia dan Iran telah
menandatangani kontrak berdurasi lima tahun. Setelah penandatanganan
kontrak tersebut, Menteri Energi Rusia mengumumkan bahwa Iran menawarkan
peluang bagi Rusia untuk menjadi penerima pasokan minyak Iran. Media
menyebut kesepakatan ini sebagai “pertukaran minyak dan barang”. Namun
pada Selasa (9/9), setelah pertemuan komisi antarpemerintah, Menteri
Energi Rusia Alexander Novak menyatakan dalam sebuah wawancara dengan
saluran televisi Russia 24 bahwa Rusia tidak sedang bernegosiasi
mengenai suplai minyak dari Iran dengan cara barter meski masih ada
kemungkinan terwujudnya kesepakatan seperti itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar