Kamis, 30 Januari 2014

Pemimpin Masa Depan

 Oleh : Annisa Nurjannah


Indonesia akan memilih lagi pemimpin bangsanya. Jenjang 5 tahun sekali pemilihan umum Capres dan Cawapres,bukan lagi hal yang lama untuk ditunggu-tunggu.sekarang pun sudah banyak berkeliaran nama-nama Capres begitu juga dengan kehebatan partai pengusungnya. Promosikan iming-iming janji kesejahteraan rakyat adalah hal biasa, sangat biasa. Toh ujungnya tak bisa tersampaikan sepenuhnya. Slogan “masyarakat hanya butuh bukti bukan janji”hanyalah sebattas impian masyarakat saja yang belum teerwujud sampai sekarang. Masih banyak pula daerah perbatasan yang belum tersentuh oleh pemerintah. Terisolasi dan tak terurus. Wakil rakyat yang duduk di parlemen memang orang-orang hebat. Mengapa saya katakan hebat? Karena sangat hebat dalam melakukan kegiatan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Hanya itulah pretasi terhebat yang sering kita dengar.
        Kita sangat mengidam-idamkan pemimpin yang ideal alias sempurna. Tetapi sekali lagi harus kita ingat “tak ada gading yang tak retak”, tak ada manusia yang tak mempunyai kekurangan, no bodies perfect. Boleh saja kita menginginkan sesuatu hal yang baik tetapi jangan pernah menuntut kesempurnaan seorang pemimpin. Keutamaan pemimpin yang baik ialah pemimpin yang dapat mengayomi masyarakatnya, lebih banyak bekerja ketimbang bicara, dan terlebih lagi harus sabar dalam menjalankan tugas kepemerintahan.
        Pemimpin yang pandai mengayomi masyarakat adalah pemimpin yang pandai bersosialisasi. Sosialisasi merupakan wujud kontak sosial langsung sehingga pemerintah dapat mendengar keluhan masyarakatnya. Mulai dari situ pemerintah bisa mengerjakan hal-hal terkecil yang penting terlebih dahulu. Kita ambil contoh terbaik yang pernah ada yaitu Gubernur DKI Jakarta tahun ini, Joko Widodo. Beliau lebih dikenal dengan nama Jokowi inisangat termashur dengan pemimpin yang suka “blusukan”, datang tiba-tiba di tengah lingkungan masyarakat dengan keramah-tamahannya. Karena menurutnya survey di lapangan itu lebih penting untuk menentukan tindakan selanjutnya, terlampir di harian Tempo.Co Jakarta. Di halaman selanjutnya juga terlampir –Joko Widodo kembali unggul dalam hasil survey calon presiden yang digelar Lembaga Klimatologi Politik (LKP) seperlima responden memilih Jokowi ketimbang calon lain-. Begitu mudahnya Jokowi menarik simpati masyarakat, padahal ia belum memutuskan mencalonkan atau tidaknya dalam penyelenggaraan Pemilu 2014 ini. Karena aksi-aksinya di lapangan begitu melekat dihati warga Jakarta, begitu juga di daerah lain ingin merasakannya apabila ia terpilih menjadi presiden nanti.
        Selanjutnya, pemimpin yang lebih banyak bekerja daripada bicara juga merupakan indikator pemimpin ideal. Masyarakat selalu melihat kekurangan dari keseluruhan bidang aspek tanpa pernah berfikir untuk mengabsen terlebih dahulu, aspek mana saja yang sudah terpenuhi. Setidaknya berfikir untuk menerima kemajuan yang sudah diusahakan pemerintah, walaupun masih banyak kekurangannya. Dan sudah seharusnya kita ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang dicanangkan oleh pemerintah kita.
        Kalau pun sudah ada pemimpin yang sudah benar, yang lurus-lurus saja pasti nantinya ditengah perjalanan ia memimpin, akan menemukan banyak kendala juga tetapi jangan sampai ia stag di tempat tanpa melakukan apa-apa.maka dari itu kita juga membutuhkan seorang pemimpin yang mempunyai kesabaran yang tnggi dan berjiwa besar tentunya. Terlebih lagi kita sebagai masyarakat yang terlalu sering mngoreksi kejadian-kejadian dan menandainya sebagai kekurangan pemerintah. Itu sangat tidak baik. Lebih baik kita introspeksi diri sendiri terlebih dahulu. Apakah kita sendiri mampu mengikuti kemauan atau cita-cita 200 juta orang? Hanya dalam waktu 5 tahun 1 kali periode, berkenalan saja belum tentu cukup waktu 5 tahun tersebut. Apalagi harus menyatukan aspirasi-aspirasi mereka? Perlunya kita menanam sikap menghargai atas upaya-upaya pemerintah dalam memajukan bangsa ini.

        Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa tak boleh sembarangan memilih pemimpin untuk negara kita. Perlu memperhatikan bbit, bebet, bobotnya seorang pemimpin yang baik bagi kita. Satu suara kita dapat menentukan nasib bangsa kelak. Tak perlu yang kaya atau berparas menawan, yang penting akhlak pribadinya. Siapkan dari sekarang siapa calon yang anda pilih nanti. Tetapi jika pilihan kita tak terpilih sebagai presiden jangan berkecil hati dan malahan menjadi warga negara pembangkang. Bagaimana pun juga jika kita ingin kehidupan yang teratur, maka kita sendirilah yang seharusnya berjuang untuk meraihnya. Mematuhi norma yang ada dan segala perintah sang pemimpin. Prinsipkan di hati anda, bahwa anda akan tetap jujur dengan pilihan anda tanpa ada paksaan sedikit pun, mari kita sukseskan pemilu 2014 bersama-sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar